Kamis, 29 November 2012

Kelelahan Rasulullah

Kebiasaan Ummu Sulaim adalah membuat makanan khusus untuk Rasulullah Saw. Tidak terkecuali Pada hari pernikahan Rasulullah dengan Zainab binti Jahzy.

Ummu Sulaim meminta Anas Ra putranya untuk mengantarkannya kepada Rasulullah Saw. Sesampai Anas dengan makanan tersebut, Rasulullah memerintahkan Anas untuk mengundang beberapa nama sahabat dan siapapun yang ditemui Anas dalam perjalanan. Anas mendapati 300 orang sahabat Ra. yang menyambut undangan Rasulullah untuk datang ke rumah beliau. Memakan satu talam makanan tersebut.

Sungguh makanan yang sangat diberkahi. Rasulullah memerintahkan Anas untuk membagi bergantian setiap 10 orang melingkari talam tersebut. Mengingat makanan dan rumah Rasulullah tidak memungkinkan menampung 300 orang sahabat Ra. Secara bersama-sama. Pada setiap lingkaran tersebut Rasulullah menyambut sahabat-sahabatnya. Mempersilakan untuk menikmati makanan tersebut sambil sesekali berbincang dan menyapa mereka.

Menemui dan melayani tamu sebanyak itu dan dengan kondisi Rasulullah yang baru menikah. Sungguh sangat lelah. Mungkin kalau orang lain akan izin untuk tidak menemui para tetamunya. Tapi hal ini tidak berlaku pada Rasulullah.

Begitulah Rasulullah. Walau lelah, tiada satupun kata keluh yang terucap dari lisannya. Setelah 300 orang sahabat itu selesai memakan satu talam makanan dari Ummu Sulaim. Rasulullah merebahkan tubuhnya, pada saat yang bersamaan ayat 53-54 dari surat Al Ahzab turun. Sebagaimana pada salah satu sabda Rasulullah, kondisi paling berat yang dirasakan tubuh Rasulullah Saw. adalah pada saat wahyu turun. Disebutkan walau pada malam hari di musim dingin, keringat membasahi sebagian tubuh Rasulullah. Sebuah kondisi yang cukup memeras kerja tubuh beliau.

Begitulah Rasulullah. Walau belum sempurna istirahat dari lelah menemui dan melayani 300 tamunya, ditambah lelah tubuhnya tidak lama setelah menerima wahyu dari Jibril As. Rasulullah bangkit dan menuntun Anas Ra untuk membaca, menghafal dan mengamalkan ayat tersebut. Seberapapun besar lelah yang dirasakan Rasulullah tidak menghalanginya untuk terus menjadikan setiap jenaknya adalah pengabdian yang terus menerus.

~Sebagaimana diceritakan DR. Nur Qarut dalam Halaqah Pagi di hari Rabu~

Selasa, 09 Februari 2010

No Subject

"Surprise!" Hidup masih dengan sekian kejutannya. Terperangah terengah-engah mengeja makna yang telungkup menyembunyikan dirinya...

Senin, 01 Februari 2010

No Subject

Menganggap lebih bisa
Pasti gerak akan berbisa

Betapa merendah tiada mudah
Menahan resah dalam bedah

Upaya tiada sia mengangkasa
Selama harap masih tersisa

Perlahan merekah bungkah
Melumat pahit berbuah berkah

Minggu, 31 Januari 2010

No Subject

Aarghhhh

Ketika geram tidak terhindarkan
Gumpal sempit harus tercairkan

Kembali menanyakan ruang rindu
Akan huruf suci yang lama terbiar sendu

Berharap sel itu kembali lapang
Elastisitas yang membentang gampang

Meluasi ruang pengap yang rabun
Terhalang kabut resah yang tertimbun

Kamis, 21 Januari 2010

No Subject

Potensi yang terbuang sia
Melebur dalam ringkih usia

Menggenggam bara melantak
Gemeretak asa menggertak

Tali kekang resah berdesak
Dalam iringan parade sesak

Diam sejenak menghimpum yang berserak
Harap diam menjadi pilih yang kagum berdecak

Selasa, 19 Januari 2010

No Subject

Remang telah mencerabut cahaya
Menggerus lapis benteng yang berjaya

Gumam anyir darah tertangkap indra
Meliuk membuyarkan fokus vibra

Merebahkan sebongkah resah
Mencoba kembali mengasah

Senin, 18 Januari 2010

No Subject

Menyerap perlahan energi yang hilang
Mengembalikannya untuk berpulang

Sejenak tanya beranak
Meragukan peran jenak

Dalam menuntaskan sekeping janji
Pada kedalaman jenak yang terpuji

Sanggupkah menanggung serupa malu
Seutas pikir berubah peran benalu